Sorong Guide | Papua Barat | Indonesia
(sumber: http://www.kompas.co.id)
KAPAL-kapal berbendera asing yang mengangkut ratusan ribu meter kubik kayu merbau melintas begitu saja di Dermaga Sorong, tanpa pemeriksaan dokumen. Kapal-kapal tersebut memang nirdokumen. Penjarahan hutan dalam kurun waktu setengah tahun terakhir telah meraibkan harta senilai Rp 265 milyar, setara dengan 140 persen Dana Alokasi Umum (DAU) Kabupaten Sorong tahun 2001. Salah satu hutan yang dijarah adalah Pulau Waigeo.Pulau Waigeo-sebuah kawasan di Kepulauan Raja Ampat-merupakan salah satu habitat burung indah khas Irian Jaya. Burung Cenderawasih, Kakatua hitam, Betet, dan Nuri. Sayang sekali mafia kayu semakin leluasa menjarah hutan, yang juga menjadi tempat tinggal satwa yang kian langka.
Kabupaten di ujung barat Irian Jaya ini memang kaya akan sumber daya alam. Lima puluh empat persen luas wilayahnya masih berupa hutan yang tersebar merata di 17 kecamatan. Hasil hutan memberikan peranan penting dalam perputaran roda perekonomian daerah. Hal ini tercermin pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2000. Kehutanan membukukan angka Rp 116,7 milyar. Bagaimana tahun 2001? Akan menjadi lain ceritanya kalau penjarahan hutan tidak mampu dikendalikan oleh Pemerintah Kabupaten Sorong.
Kandungan kekayaan alam yang ada di perut bumi Sorong sudah banyak diketahui orang. Minyak bumi misalnya, menjadi salah satu contoh eksploitasi sumber daya alam yang saat ini dilakukan oleh Pertamina dan Santa Fe. Selain itu, tambang nikel juga sudah mengawali aktivitasnya di Pulau Gag, Sorong. Eksploitasi tambang di Sorong tahun 2000 mampu memberikan andil sebesar 34,93 persen dari total kegiatan ekonomi senilai Rp 1,06 trilyun. Sebagian besar tambang didominasi minyak bumi.
Selasa, 08 Juli 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar